Cipagalo, Bandung —
Di tengah gencarnya isu limbah tekstil yang tak terkendali, Kainiku hadir membawa harapan. Tidak hanya sebagai gerakan daur ulang kain bekas, tapi juga sebagai penggerak ekonomi sirkular berbasis komunitas. Salah satu produk unggulan yang kini mencuri perhatian adalah keset sambutan bertuliskan “Wilujeng Sumping”—sebuah penyambut tamu yang tidak hanya fungsional, tetapi juga penuh nilai.
✂️ Dari Kain Perca Menjadi Produk Ramah Lingkungan
Keset ini dibuat dari potongan kain bekas batik, polos, dan tekstil rumah tangga yang tidak terpakai. Melalui tangan-tangan terampil ibu-ibu PKK dan mitra konveksi lokal, kain-kain tersebut disusun ulang menjadi satu bentuk seni yang indah dan berguna.
“Kami ingin setiap orang yang datang ke rumah disambut dengan hangat, sekaligus diingatkan bahwa limbah pun bisa bernilai,” ungkap Bu Euis, salah satu pengrajin keset Kainiku.
🧵 Simbol Penyambutan Sekaligus Edukasi
Tulisan Wilujeng Sumping bukan sekadar sapaan biasa. Ia menjadi simbol dari keterbukaan masyarakat terhadap perubahan yang lebih baik—terutama dalam mengelola limbah tekstil rumah tangga. Setiap keset juga dilengkapi dengan label produk dan logo Kainiku sebagai tanda bahwa ini adalah karya hasil kolaborasi masyarakat untuk bumi yang lebih bersih.
💚 Nilai Sosial, Budaya, dan Lingkungan Menyatu
Lebih dari sekadar produk, keset “Wilujeng Sumping” adalah hasil gotong-royong antara tim Green Squad, relawan muda, ibu-ibu rumah tangga, hingga mitra gudang. Proses pembuatannya membuka lapangan kerja baru, meningkatkan keterampilan, serta menjadi sumber pendapatan tambahan bagi masyarakat sekitar.
Setiap pembelian produk ini secara langsung berkontribusi pada:
- Pengurangan limbah kain yang sulit terurai
- Pendanaan beasiswa bagi mahasiswa
- Dukungan pelatihan UMKM daur ulang tekstil
